Sabtu, 07 November 2015

 PEJAH GESANG MELU BUNG KARNO                                                                                                                                                                                                                                                                                                
            
                                                                                        Letjen. KKO Hartono.                                                                                                                                                                                                                                           
    Salah satu alasan Bung Karno diam dan tak hentikan operasi Pasukan Soeharto adalah demi keutuhan NKRI. Padahal Jenderal-jenderal loyalisnya sudah siap tempur.
Ini versi lain dari peralihan kepemimpinan Indonesia dari Ir. Soekarno ke Mayjen Soeharto, berikut pelaksanaan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang diduga kuat diselewengkan yang bersangkutan. 

Menurut Jenderal-jenderal loyalis Bung Karno, Soeharto jelas-jelas telah menyelewengkan isi Supersemar. Kabarnya mereka adalah Panglima Kodam Jaya, Amir Machmud, Panglima Kodam Siliwangi Ibrahim Adji, dan beberapa Panglima kodam lainnya. 

Namun salah satu yang terang-terangan menentang dan gerah dengan kiprah Mayjen Soeharto adalah Letjen (KKO-AL atau Korps Komando Angkatan Laut, sekarang Marinir) Hartono. 

Adalah Hartono juga yang mensponsori demonstrasi besar-besaran anggota KKO yang pro–Soekarno pada 1966. Mereka meneriakkan "Pejah Gesang Melu Bung Karno" yang artinya "Hidup Mati Ikut Bung Karno".

Dikabarkan pada bulan Maret 1966, sang Jenderal menghadap langsung Bung Karno di Istana Negara dan meminta izin untuk menumpas Pasukan Mayjen Soeharto. Tapi apa dinyana, Bung Karno tegas-tegas menolak permintaan Hartono. 

Alasannya, jika terjadi perang antar sesama anak bangsa, maka akan dengan sangat mudah pihak asing masuk ke Indonesia. Di sinilah sikap kenegarawanan Bung Karno jelas terasa sekali. 

Hartono manut saja. Ia sadar bahwa perintah Bung Karno adalah titah yang tak boleh disanggah. Ia juga sadar Bung Karno adalah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Suatu sikap terpuji, yang tidak diikuti oleh kolega-koleganya yang memilih ikut “berpesta pora” dalam rezim Orde Baru. 

Siapakah Letjen (KKO-AL) R. Hartono? DI DUNIA TENTARA, khususnya di Angkatan Laut Republik Indonesia, Hartono bukanlah nama yang asing. Selain dikenal sebagai Panglima KKO AL yang kharismatik dan tegas, loyalitasnya terhadap Presiden Sukarno tak perlu diragukan lagi.”Hitam komando Bung Karno, Hitam tindakan KKO, putih komando Bung Karno, putih tindakan KKO…”katanya dalam sebuah pidato di depan anak buahnya.

Kata-kata Hartono itu sesungguhnya bukan sekadar gertak sambal atau isapan jempol belaka. Buktinya, saat Jakarta “dikuasai” kelompok Letnan Jenderal Soeharto cs pasca Gerakan 30 September yang gagal tersebut, dari basisnya di Surabaya, Hartono konon sudah menyiapkan 30.000 prajurit KKO untuk menggempur ibu kota. “Akan tetapi, Presiden Sukarno tidak pernah mengeluarkan komando yang sedang mereka tunggu-tunggu tersebut.” tulis sebuah laporan penelitian dari tim Insititut Studi Arus Informasi (ISAI) yang berjudul Bayang-Bayang PKI.

Bahkan seolah ingin meyakinkan Presiden Sukarno akan kekuatan para loyalisnya, tepat pada peringatan ulang tahun Bung Karno yang ke-65 (6 Juni 1966), KKO AL secara besar-besaran melakukan “unjuk gigi” di Surabaya. Selain mengerahkan hampir seluruh pasukan, semua senjata berat seperti tank dan amphibi juga dikeluarkan untuk melakukan pawai keliling Surabaya.

“ Barisan  pasukan tersebut diikuti ribuan massa, panjangnya sampai 30 km” tulis Jenderal Soemitro dalam Perjalanan Seorang Prajurit Pejuang dan Profesional : Memoar Jenderal TNI (Purn.) Soemitro (Saleh A. Djamhari ; editor Soegiarto, Ramadhan Kartahadimadja).

Barisan prajurit KKO dan massa rakyat itu berpawai dalam “semangat yang menggila”. Aksi-aksi provokatif pun dilontarkan mereka terhadap instansi-instansi yang dinilai pro Soeharto. Sebagai contoh, saat dengan sengaja barisan tersebut melewati rumah dinas Panglima Kodam Brawijaya di Jalan Raya Darmo, massa secara bergelombang menyerukan kata-kata: “Bung Karno Jaya! Bung Karno Jaya!”

Sebelumnya Hartono juga sempat memerintahkan 2 batalyon KKO untuk membuka pos taktis di Yogya, menyusul maraknya aksi menentang Bung Karno di kota gudeg tersebut. Menurut Julius Pour, inilah bentuk “tantangan” Hartono untuk Soeharto yang saat itu juga tengah mengerahkan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) ke Yogya untuk memburu orang-orang PKI dan para Sukarnois.

Banyak kalangan yang menyebut loyalnya Hartono kepada Bung Karno terkait soal ideologi. Kendati seorang militer, Hartono disebut diam-diam adalah seorang penganut marhaenisme garis keras. Soal ini dibantah oleh Nenny Hartono. Menurut putri ketiga dari Hartono tersebut, kesetiaan sang ayah terhadap Presiden Sukarno semata-mata hanya karena disiplin tentara.

“Papa itu seorang tentara tulen. Ia enggak peduli politik.  Karena yang ia tahu Bung Karno adalah pimpinan tertinggi Angkatan Bersenjata yang segala perintahnya harus dituruti sesuai saptamarga, maka siapapun yang melawan  Bung Karno maka ia akan menjadi musuhnya pula,” ujar Nenny.

Hal ini juga diakui oleh Grace Walandaow. Menurut perempuan Manado kelahiran Surabaya itu, suaminya memang tak pernah menampik tugas apapun yang dibebankan kepada dirinya. Ketika di akhir tahun 60-an, Hartono “didubeskan” oleh Soeharto ke Korea Utara, ia tak mengeluh atau berniat menolak perintah tersebut. “Saya tak berhak menolak perintah atasan. Saya ini seorang tentara,”ujar Grace menirukan ungkapan sang suami kepadanya.


KETIKA DIKABARI tentang meninggalnya sang suami, Grace dan keempat putrinya yang berada di Pyongyang sama sekali kurang percaya. Sebelumnya, Hartono berpamitan akan berangkat ke Tokyo untuk mengikuti pertemuan para duta besar Indonesia se-Asia Pasifik di sana. “Sebelum ulang tahun Mama, saya pasti pulang,”ujarnya.

Tapi manusia hanya bisa berencana. Begitu sampai Tokyo dan bertemu dengan beberapa rekan KKO-nya yang juga “didubeskan” (diantaranya Laksamana Mulyadi), Hartono mendengar "kabar miring" sekitar KKO AL. Selain mendengar kabar "penciutan" kekuatan KKO, ia juga diberi informasi tentang adanya Operasi Lumba-Lumba. Itu adalah upaya pemerintah Soeharto membersihkan Angkatan Laut dari anasir PKI. Hartono lantas menjadi berang. Ia lantas memutuskan usai pertemuan, tidak pulang ke Pyongyang namun  langsung ke Jakarta untuk memastikan soal ini dan jika perlu memprotes keputusan tersebut.

Selama di Jakarta, Hartono banyak bertemu dengan beberapa kalangan penting. Mulai bertemu Laksamana Sudomo (KASAL) hingga menemui Soeharto yang saat itu sudah menjadi presiden. Ia juga ditenggarai bertemu dengan beberapa tokoh intelijen seperti Yoga Sugama dan Ali Moertopo. “Bahkan sebelum ke Jakarta, ia sempat ke Bangkok untuk bertemu dengan H.R. Dharsono  yang dikenal sebagai tukang kritik kebijakan Bung Karno. Untuk apa dua perwira tinggi yang memiliki pandangan berbeda saling bertemu?”ujar Julius Pour.

Tak jelas apa hasil dari pertemuan-pertemuan tersebut, kecuali pada 6 Januari 1971, Hartono memutuskan untuk balik ke Pyongyang. Namun beberapa jam sebelum ia menaiki pesawat, sebutir peluru keburu menghabisi hidupnya. Sang loyalis yang sedang marah dan kecewa itu akhirnya terbungkam.

Grace sendiri dan keempat putrinya baru bisa pulang ke Jakarta, dua minggu setelah sang suami dikebumikan di Taman Malam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Maklum saja, pesawat rute Pyongyang-Moskaw-Singapura-Jakarta hanya ada sekali penerbangan dalam dua minggu.

Ketika melukisakn kedatangannya ke Jakarta, Grace mengenangnya sebagai persitiwa yang tidak menyenangkan. Dalam situasi berduka, dari Bandara Udara Kemayoran, ia langsung dilarikan petugas dari Corps Polisi Militer (CPM) ke Mess Perwira Tinggi AL di Kwini guna menghindari kejaran para wartawan.

“Beberapa media saat itu menyebut saya tak mau memberikan keterangan apapun. Yang benar saya tidak diberi kesempatan untuk berbicara dengan wartawan,”kenang Grace. Di era Bung Karno dia adalah Komandan Marinir sekaligus menjabat sebagai Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut. 
                                                                                                                                                                          Dan menurut pernyataan resmi rezim Orde Baru, Hartono meninggal bunuh diri dengan cara menembakkan senjatanya ke kepalanya sendiri di kediamannya di Jl. Prof. Dr. Soepomo, Menteng, Jakarta Pusat pada pagi hari pukul 05.30. 

Kisah tragis itu terjadi saat dia dipanggil oleh Soeharto ke Jakarta dari Korea Utara. Cerita bunuh diri tentu saja menimbulkan tanda tanya besar. 

Pertama, jenazah Hartono harus divisum di RSPAD Gatot Subroto. Ini sangat aneh, mengingat Hartono adalah anggota Angkatan Laut, kenapa pula mesti divisum di rumah sakit milik Angkatan Darat. 

Kedua, ada kabar saat Hartono berada di kediaman, ada dua orang yang menemuinya. Istri Hartono curiga orang inilah yang membunuh suaminya. 

Ketiga, tidak terdengar letusan peluru di pagi dimana dinyatakan Hartono bunuh diri. Tentu sangat aneh kalau orang bunuh diri dengan menggunakan peredam senjata. 

Keanehan keempat, Menlu Adam Malik berjanji akan memberikan penjelasan detail tentang kematian suaminya. Namun hal itu tak pernah dilakukan pemerintah. 

Hartono dimakamkan di TMP Kalibata. Kalau pemerintah punya keinginan baik, dengan teknologi yang canggih saat ini, bisa saja pembuktian ulang dilakukan. Minimal untuk meluruskan sejarah bahwa Letjen Hartono tidak meninggal dengan cara bunuh diri. Dengan persetujuan keluarga tentunya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         “Saya hanya takut kepada Saptamarga!”  seolah menjawab Tragedi yang menimpa seorang jenderal yang loyal hingga titik darah penghabisan ini .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Anime wallpapers 3840x2160 Ultra HD 4k desktop backgrounds

This Picture was rated 9 by BING for KEYWORD anime wallpaper 4k pc, You will find it result at BING. IMAGE Details FOR Anime wallpapers 384...